MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ILMU
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Filsafat ilmu tidak lepas dari
sejarah perkembangan ilmu karena landasan utama perkembangan ilmu adalah
filsafat yang terdiri atas ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Jika proses
rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan
seluk beluk pengetahuan tersebut, ilmu dengan cara khusus dan sistematis dalam
hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas
dan mendalam. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis)
pengetahuan itu sendiri, tetapi juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis)
pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar-benar
memiliki nilai guna (aksiologis) untuk kehidupan manusia. Ketiga
landasan tersebut sangat memengaruhi sikap dan pendirian para ilmuwan dalam
pengembangan ilmu. Oleh karena itu, perkembangan ilmu pada dasarnya bersifat
dinamis. Perkembangan ilmu merupakan kajian yang melihat visi dan pergeseran
paradigma yang menandai revolusi ilmu pengetahuan. Rentang waktu revolusi ini berada
pada ruang zaman Yunani hingga zaman Kontemporer. Perkembangan ilmu dapat
ditelusuri berdasarkan rentang sejarahnya. Perjalanan ilmu mulai dari zaman
pra-Yunani Kuno, zaman Yunani, zaman Pertengahan, zaman Renaissance, zaman
Modern, dan zaman Kontemporer.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah perkembangan
filsafat ilmu pada zaman Yunani kuno?
2.
Bagaimana sejarah perkembangan
filsafat ilmu pada zaman Yunani?
3.
Bagaimana sejarah perkembangan
filsafat ilmu pada zaman Pertengahan?
4.
Bagaimana sejarah perkembangan
filsafat ilmu pada zaman Renaissance?
5.
Bagaimana sejarah perkembangan
filsafat ilmu pada zaman Modern?
6.
Bagaimana sejarah perkembangan
filsafat ilmu pada zaman Kontemporer?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui bagaimana sejarah
perkembangan filsafat ilmu pada zaman Yunani Kuno.
2.
Untuk mengetahui bagaimana sejarah
perkembangan filsafat ilmu pada zaman Yunani.
3.
Untuk mengetahui bagaimana sejarah
perkembangan filsafat ilmu pada zaman Pertengahan.
4.
Untuk mengetahui sejarah
perkembangan filsafat ilmu pada zaman Renaissance.
5.
Untuk mengetahui bagaimana sejarah
perkembangan filsafat ilmu pada zaman Modern
6.
Untuk mengetahui bagaimana sejarah
perkembangan filsafat ilmu pada zaman Kontemporer.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Zaman
Pra-Yunani Kuno
Dalam masa lebih dari 200 tahun,
yakni abad ke-8 sampai abad ke-6 SM. kehidupan masyarakat Yunani berlangsung di
bawah pengaruh kehadiran kekuatan mitos-mitos serta mitologi. Persoalan hidup
dan kehidupan keseharian dipecahkan bedasarkan keterangan mistis dan mitologi.
Zaman ini menurut Mustansyir (2006:
87-98) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Pengetahuan dalam kehidupan
sehari-hari yang didasarkan pada pengalaman.
2.
Pengetahuan diterima sebagai fakta
dengan sikap selalu menghubungkan dengan kekuatan migis.
3.
Kemampuan menemukan abjad dan system
bilangan alam sudah manampakkan perkembangan pemikiran manusia ke tingkat
abstraksi.
4.
Kemampuan meramalkan suatu peristiwa
atas dasar peristiwa-peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi.
Pada
abad ke-7 SM, di Yunani muncul kebudayaan baru yang disebut polis. Polis
berarti Negara-kota yang secara administrative dan konstitusional mempunyai
otonomi dan bias mengatur kehidupan warganya sendiri. Hal terpenting dari polis
ialah keterbukaan warganya untuk menerima unsur-unsur baru dari luar. Oleh
karena itu, mulai tercipta kesempatan berdiskusi di pusat polis yang
disebut agora. Kondisi ini menjadikan mitologi-mitologi tradisional
mulai hilang kewibawaannya. Mempelajari peristiwa alam, masyarakat mulai muncul
keingintahuannya. Mulai mencari apa yang ada dibalik fenomena.[1]
B.
Zaman Yunani
Ciri-ciri usia ini ditandai dengan:
1.
Setiap orang memiliki kebebasan
mengungkapkan ide.
2.
Masyarakat tidak lagi mempercayai
mitos-mitos.
3.
Masyarakat tidak menerima pengalaman
yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, tetapi pada sikap menyelidiki
secara kritis.
Zaman
ini banyak melahirkan filsuf yang abdi seperti Thales pada abad ke-6 SM dengan
pandangannya air sebagai asas pertama segala sesuatu. Ia digelar sebagai filsuf
pertama oleh aristoteles. Filsuf Anaximandaros (610-540 SM) dengan konsepnya arkhe,
yakni asal segala sesuatu adalah yang tak terbatas (to apiron) yang
bersifat abadi. Selanjutnya, anaximenes (I lebih muda dari Anaximandaros)
berpandangan bahwa asas pertama segala sesuatu dari udara, karena udara
melingkupi segala yang ada. Banyak filsuf yang muncul pada masa ini, namun
ketiga fisuf ini penting dicatat sebagai pembuka tabir ilmu yang mendasarkan
pandangannya tidak pada mitos, tetapi logos (Mustansyir dan Munir 2001:
20).
Sebagai
rasa hormat kita kepada mereka sebagai pemikir pada masa itu, yang memperkaya
khazanah perkembangan ilmu sekarang. Berikut ini diurutkan antara Caroc,
Tissias, Empedocles, Pyhtagoras, Georgia, Protagoras, Lycias. Phidias,
Isocrates, Democrates. Tulius Cicero, Milton Massilon, Jeremy Tailor, Edmund
Burke, demostenes, Aeschemenes, Prodicus, Quantilianus, Plato, Agustinus,
tacitus, Socrates, Aristoteles, Antonius, Crassus, Rufus, Hortensius, dan
Cicero.
Periode
filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah peradaban
manusia karena saat ini terjadi perubahan pola piker manusia dan masyarakat
dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris
adalah pola piker masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan
fenomena alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap sebagai
fenomena alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya.
Namun ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap
sebagai aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang yang terjadi secara kausalitas.
Perubahan pola pikir tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak
sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi, kemudian didekati bahkan
dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam mejadi
lebih proaktif dan kreatif sehingga alam dijadikan objek penelitian dan pengkajian.
Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat yang akhirnya
kita nikmati dalam bentuk teknologi. Oleh karena inu, periode perkembangan
filsafat Yunani merupakan entry point untuk memasuki peradaban baru umat
manusia.
Untuk
menelusuri filsafat Yunani, perlu dijelaskan terlebih dahulu asal kata
filsafat. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM, di Yunani, Shopia
diberi arti kebijaksanaan, shopia juga berarti kecakapan. Kata Philosophos
mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh Heraklitos 9540-480 SM). Sementara
ada yang mengatakan bahwa Heraklitos yang pertama menggunakan istilah tersebut.
Menurutnya philosophos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan luas
sebagai pengejawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran dan mulai
benar-benar jelas digunakan pada masa kaum Sofis dan Socrates yang memberi arti
philosophein sebagai penguasaan secara sistematis terhadap pengetahuan
teoritis. Philosohia adalah hasil dari perbuatan yang disebut Philosophein
itu, sedangkan pilosophos adalah yang melakukan philosophein. Dari kata philosophie
itu nantinya timbul kata-kata philosophein (Belanda, JermanPrancis), philosophy
(Inggris). Dalam bahasa Indonesia disebut filsafat atau falsafat (Soejabrata
1970: 80).
Mencintai
kebenaran/pengetahuan adalah awal proses manusia mau menggunakan daya
pikirannya sehingga dia mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi.
Orang yunani awalnya sangat percaya pada dongeng dan tahkayul, tetapi
lama-kelamaan, terutama setelh mera mampu membedakan yang riil dengan yang
ilusi, mereka mampu keluar dari kungkungan mitologi dan mendapatkan dasar
pengetahuan ilmiah. Inilah titik awal manusia menggunakan rasio untuk meneliti
dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.
Karena
manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri,
timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan dalm
pikirannya, dari mana datangnya alam ini, bagaimana kejadiannya serta
kemajuannya dan kemana tujuannya? Pertanyaan semacam inilah yang selalu menjadi
pertanyaan dikalangan filsuf Yunani sehingga tidak heran kemudian mereka juga
disebut dengan filsuf alam karena perhatian yang begitu besar pada alam. Para
filsuf alam juga disebut filsuf pra-socrates, sedangkan Socrates dan setelahnya
disebut filsuf pasca-Socrates yang tidak hanya mengkaji tentang alam, tapi
manusia dan perilakunya.
Fisuf
alam pertama yang mengkaji tentang asal-usul alam adalah Thales (624 546 SM).
Thales diberi gelar Bapak Filsuf karena dia adalah orang yang mula-mula
berfilafat dan mempertanyakan "apa sebenarnya asal usul alam semesta
ini?". Pertanyaan ini dijawab dengan pendekatan rasional, bukan pendekatan
mitos dan kepercayaan. Thales mengatakan asal alam adalah air karena air unsur
penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti
uap dan beda padat seperti es dan bumi ini juga berada di atas air (Tafsir
1992).
Setelah
Thales, muncul Anaximandros (610-540 SM) yang menjelaskan bahwa susbstansi
pertama bersifat kekal, tidak terbatas, dan meliputi segalanya. Tidak setuju
dengan pedapat bahwa unsur pertama adalah air atau tanah. Unsur utama adalah
unsur yang mencakup segalanya dan diatas segalanya yang dinamakan apeiron.
Hal tersebut adalah air maka air harus meliputi segalanya termasuk api yang
merupakan lawannya. Padahal tidak mungkin air menyingkirkan anasir api. Oleh
karena itu, Anaximandros tidak puas dengan menunjukkan salah satu anasir
sebagai prinsip alam. Namun dia mencari yang lebih dalam, yaitu zat yang tidak
dapat diamati pancaindera.
Heraklitos
(540-480 SM) melihat alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuati
yang dingin berubah menjadi panas dan sebaliknya yang panas menjadi dingin. Ini
berarti bhwa jika kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita harus memahami
bahwa kosmos itu dinamis. Segala sesuatu saling bertentangan dan dalam
pertentangan itulah kebenaran. Gitar tidak akan menghasilkan buni kalau dawai
tidak tegang antara kedua ujungnya. Karena itu, ia menyimpulkan, tidak ada yang
benar-benar ada, semuanya menjadi. Ungkapan Heraclitos yang terkenal dalam
menggambarkan perubahan ini adalah panta rhei uden menei (semua mengalir
dan tidak ada yang tetap).
Itulah
sebabnya dia mempunyai kesimpulan bahwa yang mendasar dalam alam semsta ini
adalah bukan bahannya, melainkan actor dan penyebabnya api. Api adalah insur
yang paling asasidalam alam karena api dapat mengeraskan adonan roti dan disisi
lain dapat melunakkan es. Artinya, api adalah actor pengubah dalam alam ini
sehingga api pantas dianggap sebagai symbol perubahan itu sendiri (Tafsir
1992).
Filsuf
alam yang cukup berpengaruh adalh Parmenides (515-440 SM) yang lebih muda
uurnya daripada Heraklitos. Pandangannya bertolak belakang dengan heraklitos.
Menurut Heraklitos, realitas seluruhnya bukanlah sesuatu yang lain daripada gerak
dan perubahan, sedangkan menurut Parmenides, gerak dan perubahan tidak mungkin
terjadi. Menurutnya, realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak
bergerak dan tidak berubah. Dia mengaskan bahwa yang ada itu ada. Inilah
kebenaran. Coba bayangkan apa konsekuensi bila ada orang yang memungkiri
kebenaran itu. Ada dua pengandaian yang mungkin.. Pertama orang yang bias
mengemukakan bahwa yang ada itu tidak ada. Kedua orang dapat mengemukakan bahwa
yang ada itu serentak ada dan serentak tidak ada. Pengandaian pertama tertolak
dengan sendirinya karena yang tidak ada memang tidak ada, sedangkan yang tidak
ada tidak dapat dipikirkan dan menjadi objek pancaindera. Pegandaian kedua
tidak dapat diterima karena antara ada dan tidak ada tidak terdapat jalan tengah,
yang ada akan tetap ada dan tidak mungkin menjadi tidak ada. Jadi, harus
disimpulkan bahwa yang ada itu ada dan tulah satu satunya kebenaran (Bertens,
Sejarah: 47).
Benar
tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Bentuk ekstrem pertanyaan itu
adlah bahwa ukuran kenebaran adalah akal manusia. Dari pandangan ini dia
mengatakan bahwa alam tidak brgerak, tetapi diam karena alam itu satu. Dia
menentang pendapat Heraklitos yang mengatakan alam selalu bergerak. Gerak alam
yang terlihat menurut Pemenides adalah semu, sejatinya alam itu diam. Akibat
dari pandangan ini kemudian mucul prinsip penteisme dalam memandang realitas.
Phytagoras
(580-500 SM) mengembalikan segala sesuatu pada bilangan. Baginya, tidak ada
satupun di alam ini yang terlepas dari bilangan. Semua realitas dapat diukur
dengan bilangan (kuantitas). Olch katena itu, dia berpendapat bahwa bilangan
adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Kesimpulan ini
ditarik dari kenyataan bahwa realitas alam adalah harmoni antara bilangan dan
gabungan antara dua hal yag berlawanan, seperti nada music dapat dinikmati
karena oktaf adalah hasil dari gabungan bilangan 1 (ganjil) dan 2 (genap).
Apabila segala-galanya adalah bilangan. itu berarti bahwa unsur bilabgan
merupakan unsur yang terdapat dalam segala sesuatu. Unsur-unsur bilanganitu
adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak terbatas. Demikian juga seluruh
jagad raya merupakan suatu harmoni yang mendamaikan hal-hal yang herlawanan.
Artinya, segala sesuatu berdasarkan dan dapat dikembalikan pada bilagan.
Jasa
Phytagoras ini sangat besar dalam pengembangan ilmu, terutama ilmu pasti dan
ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sngant
brgantung pada pendekata matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika merupakan
sarana ilmiah yag terpenting dan akurat karena dapat dengan pendekatan
matematika lah ilmu dapat diukur dengan benar dan akurat. Di samping itu,
matematika dapat menyederhanakan uraian yang panjang dalam bentuk symbol
sehingga lebih cepat dipahami.
Setelah
berakhirya masa para filsuf alam maka muncul masa transisi, yakni penelitian
terhadap alam tidak menjadi focus utama, tetapi sudah mulai menjurus pada
penyelidikan pada manusia. Filsuf alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban
yang memuaskan sehingga muncul kaum "Sofis". Kaum ini memulai
kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran.
Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM). menyatakan bahwa manusia adalah
ukuran kebenaran. Pernyataan ini merupakan cikal bakal humanism. Pertanyaan
yang muncul adalah apakah yag dimaksud dengan manusia individu atau manusia
pada umumnya? Memang dua hal ini menimbulkan konsekuensi yang sangat berbeda.
Namun, tidak ada jawaban yang pasti, mana yang dimaksud oleh Protogoras. Elai
itu. Protogoras menyatakn bahwa kebenaran itu bersifat subjektif dan relative.
Akibatnya, tidak aka nada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, ataupun
agama. Bahkan teori matematika tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang
absolut.[2]
C.
Abad
Pertengahan
Era pertengahan ditandai dengan
tampilnya para theology dalam dunia ilmu. pegetahuan di belahan bumi Eropa.
Aktivitas ilmiah terkait terkait degan aktivitas keagamaan. Aktivitas ilmuwan
di belahan bumi Eropa, pada umumnya kegiatan ilmiah didasarkan utuk mendukung
kebenaran keagamaan.
Di lain kesempatan, belahan timur,
Islam pada abad ke-7 Masehi sempat mengalami kemajuan pesat. Pada abad ke-8 M,
yaitu abad ke-7 sebelum Glileo Galilae dan Copernicus Berjaya, didirikan
sekolah Kedokteran dan Astronomi di Jundishapur. Kontribusi Islam terhadap ilmu
pengetahuan saat ini antara lain (1) menerjemahkan peninggalan Yunani dan
menyebarluaskan seni rupa sehingga dapat dikenal di dunia barat; (2) memperluas
pengamatan dalam ilmu kedokteran, kedokteran. astronomi, kimia, ilmu bumi dan
ilmu tanaman; dan (3) menekankan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
Pada masa ini, kemajuan ilmu
matematika yang membangun mode matematika dan memperkenalkan system decimal.
Filsuf Muslim Al-Khawarizmi yang mengembangkan Trigonometri dengan
memperkenalkan teori sinus dan cosinus, tangen, dan cotangent. Ilmu Fisika
menampilkan fisikawan asal Bagdad Musa Ibn Sakir yang mengarang Kitab Al-Hiyal
yang menggambarkan hokum-hukum mekanika dan problem stabilitas. Ibn Al-Hayun
dengan Kitab Al-Munadhir yang membuktikan hokum refleksi cahaya. Bidang
Kedokteran, Ibn Siena mengarang buku teks dalam bidang medis berjudul Al-Qamum
yang menjadi buku standar selama 500 tahun di dunia Islam dan Eropa, la juga
meneliti masalah astronomi, kesehatan anak, Gineacologi. Dalam dunia deografi,
dikembangkan jarum magnetic untuk dipergunakan dalam navigasi dan penemuan
kompas. Jasa jarum magnetic ini, pulau-pulau baru dan rute laut lingkar Asia,
Afrika, dan eropa berhasil ditemukan. Para petualang Musim menjelajahi Cina,
Jepang. India, asia Tenggara dan samudra India, eropa, skandinavia, Irlandia,
Jerman, Prancis, dan Rusia (Mustansyir 2000: 49-67).[3]
D.
Zaman
Renaissance
Era renaissance ditandai dengan
kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dongeng-dongeng agama. Zaman
peralihan ketika budaya tengah mulai berubah.mejadi suatu kebudayaan modern.
Pnemuan ilmu pengtahuan modern mulai dirintis pada masa ini. Ilmu pengetahuan
yag maju pesat pada masa ini ialah astronomi. Tokohnya yang terkenal antara
lain Copernicus, Kepler, dan Galileo Galilae. Kegiatan ilmiah didasarkan pada
beberapa hal: 1) observation; 2) elimination, penyingkiran; 3) prediction,
peramalan; 4) measurement, pengukuran; 5) eksperimen, percobaan untuk berbagai
teori yang didasarkan pada ramalan matematika (Mutansyir 2001: 132-133).
Renaisasi merupakan era sejarah yang
penuh dengan kemajuan dan perubahan yag mengandung arti bagi perkembangan ilmu.
Zaman yag menyaksikan dilacarkanya tantangan gerakan reformasi terhadap keesaan
dan supremasi gereja katolik Roma, bersamaan dengan berkembangnya Humanisme. Zaman
ini juga merupakan penyempurna kesenian, keahlian dan ilmu yang diwujudkan
dalam diri jenius serba bias, Leonardo Da Vinci. Penemu percetakan (kira-kia
1440 M) dan ditemukannya benua baru (1492) oleh Colombus memberikan dorongan
lebih keras untuk merih kemauan ilmu. Kelahiran kembali sastra di inggris,
prancis dan spanyol diwakili Shakespare, spencer, Rabelais, dan Ronsard, saat
itu, seni muik juga mengalami perkembangan. Adanya penemuan para ahli
perbintangan seperti Copernicus dan Galileo menjadi dasar bagi munculnya
astronomi modern yang merupakan titik balik dalam pemikiran ilmu dan filsafat
(Shadily Hasan 1984: 2880).
Tidaklah mudah untuk membuat garis
batas yang tegas antara zaman renaisans dan zaman modern. Sementara orang
menganggap bahwa zaman modern hanyalah perluasan renaisans. Akan tetapi,
pemikiran ilmiah membawa manusia lebih maju kedepan dengan kecepatan yang
besar, berkat kemampuan kemampuan yang dihasilkan oleh masa-masa sebelumnya.
Manusia maju dengan langkah raksasa dari zaman uap ke zaman listrik, kemudian
ke zaman atom, electron, radio, televise, roket, dan zaman ruang angkasa
(Komite Nasional Mesir untuk UNESCO 1986: 174).
Pada zaman renaisans ini, manusia
barat mulai berpikir secara baru dan secara berangsur-angsur melepaskan
diri-diri otoritas kekuasaan gereja yang selama ini membelenggu kebebasan dalam
mengemukakan kebenaran filsafat dan ilmu. Pemikiran yang dapat dikemukakan
dalam tulisan ini antara lain Nicolas Copernicus. (1473-1543) dan Prancis Bacon
(1561-1626).
Corpernicus adalah seorang tokoh
gereja ortodoks, ia menemukan bahwa matahari berada dipusat jagad raya dan bumi
memiliki dua macam gerak, yaitu perputaran sehari-hari pada porosnya dan gerak
tahunan mengelilingi matahari, teorinya ini disebut Heliosentrisme, dimana
matahari adalah pusat jagad raya, bukan bumi sebagaimana yang digunakan
ptolomeus yang diperkuat gereja. Teori ptolomeus ini disebut Geosentrisme yang
mempertahankan bumi sebagai pusat jagad raya (Mustansir dan Muni 2002: 70). Sekalipun
Copernicus membuat model, tetapi alas an utamanya bukanlah sistem, melainkan
keyakinannya bahwa prinsip Heliosentrisme akan sangat memudahkan perhitungan.
Copernicus sendiri tidak berniat untuk mengemukakan penemuannya, terutama
mengingat keadaan dan lingkungan gereja waktu itu. Menurut gereja. Prinsip
Geosentrisisme dianggap lebih benar dibanding prinsip Heliosentrisme. Setiap
siang dan malam kita melihat semuanya mengelilingi bum. Hal ini di tetapkan Tuhan,
oleh agama karena manusia menjadi pusat perhatian Tuhan, untuk manusialah semua
itu diciptakan-Nya, Paham tersebut disebut Heliosentrisme. Dengan kata lain,
prinsip Geosentrisisme tidak dapat dipisahkan dari prinsip Heliosentrisme. Jika
dalam keadaan tersebut prinsip Heliosentrisme dilontarkan, akan berakibat
berubah dan rusaknya seluruh kehidupan manusia saat itu (Santoso 1977: 68).
Teori Copernicus ini melahirkan
revolusi pemikiran tentang alam semesta, terutama astronomi. Bacon adalah
pemikir yang seolah-olah meloncat keluar dari zamannya dengan melihat perintis
filsafat ilmu. Ungkapan Bacon yang terkenal adalah Knowledge is Power
(pengetahuan adalah kekuasaan). Ada tiga contoh yang dapat membuktikan
pernyataan ini adalah sebagai berikut:
1.
Mesin menghasilkan kemenangan dan
perang modern
2.
Kompas memungkinkan manusia
mengarungi lautan
3.
Percetakan yang mempercepat
penyebaran ilmu (Mustansir 2002: 71)
Penemuan
Copenicus mempunyai pengaruh luas dalam kalangan sarjana, antara lain Tycho
Brahe dan Johannes Keppler. Tycho Brahe (1546-1601) adalah seorang bangsawan
yag tertarik pada sistem astronomi baru. Ia membuat alat-alat ukurannya besar
sekali untuk mengamati bintang-bintang dengan teliti. Berdasarkan alat-alat
yang besar itu dengan ketentuan serta ketelitian pengamatannya, bahkan yang
dapat dikumpulkan selama 21 tahun sangat besar artinya untuk ilmu dan keperluan
sehari hari.
Perhatian
Tycho Brahe dimulai pada bulan November tahun 1572, dengan munculnya bintang
baru di gugusan Cassiopela secara tiba-tiba yaitu bintang yang cemerlang selama
16 bulan sebelum ia padam lagi. Bintang yang dalam waktu sigkat menjadi
cemerlang dalam bahasa modern disebut Nova atau Supernova, bergantung dari
besar dan massanya. Timbulnya bintang baru itu Menggugurkan pendapat yang dianut
sampai saat itu, yaitu karena angkasa diciptakan Tuhan maka angkasa tidak dapat
berubah sepanjang masa serta bentuknya akan tetap abadi, Beberapa tahun
kemudian. Thyco berhasil menyusun sebuah observatorium yang lengkap dengan
alat, kepustakaan dan tenaga pembantu (Santoso 1997).
Dalam
tahun 1577, ia dapat mengikuti timbulnya sebuah komet. Dengan bantuan
alat-alatnya, ia menetapkan lintasan yang diikuti komet tersebut. Tentunya
lintasan lintasan ini lebih jauh dari planet Venus. Penemuan ini membuktikan bahwa
benda-benda angkasa tidak menempel pada crystalline spheres, tetapi datang dari
tempat yang sebelumnya tidak dapat dilihat kemudian menghilang lagi.
Kesimpulannya adalah "benda-benda angkasa semuanya terapung bebas dalam
ruang angkasa" (Ibid),
Johannes
Keppler (1571-1630) adalah pembantu Thyco dan seorang ahli matematika. a masih
bertolak dari kepercayaan bahwa semua benda angkasa bergerak, mengikuti
lintasan circle karena sesuai dengan kesempurnaan ciptaan Tuhan. Namun, semua
perhitungan tetap menunjukkan bahwa lintasan merupakan sebuah elips untuk semua
planet. Akhirnya, Keppler terpaksa mengakui bahwa memang lintasan berbean
terbentuk elips.[4]
E.
Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan
penemuan dalam bidang ilmiah. Benua Eropa dipandang sebagai basis perkembangan
ilmu pengetahuan. Slamet dan Imam Santoso ( Soemargono 1984: 65) mengemukakan
tiga sumber kemajuan, yaitu (1) hubungan. Islam dan Semenanjung Iberia dengan
Negara-negara Perancis. Para pendeta Perancis banyak belajar di Spanyol dan kembali
menyebarkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, (2) Perang Salib (1100-1300)
yang terulang sebanyak enam kali menjadikan tentara Eropa menyadari kemajuan
negara-negara Islam, dan (3) jatuhnya Istambul ke tangan bangsa Turki pada
tahun 1453 sehingga para pendeta dan sarjana mengungsi ke Italia dan
Negara-negara di Eropa. Mereka menjadi pianor perkembangan ilmu di eropa. Tokoh yang terkenal dalam masa ini adalah
Rene Descartes. Ia mewariskan suatu metode berpikir yang menjadi landasan
berpikir dalam ilmu pengetahuan modern. Langkah berpikir menurutnya ialah (1)
tidak menerima apapun sebagai hal yang benar, kecuali kalau diyakini sendiri
bahwa itu memang benar, (2) memilih-milih masalah menjadi bagian yang terkecil
untuk mempermudah penyelesaiannya, (3) berpikir runtut dengan mulai dari suatu
hal sederhana ke hal paling rumit, serta (4) perincian yang lengkap dan
pemeriksaan yang menyeluruh supaya tidak ada yang terlupakan (Mutansyir 2001:
134-135).
Setelah Galileo, Fermat, Pascal, dan
keppler berhasilmengembangkan penemuan mereka dalam ilmu maka pengetahuan yang
terpencar-pencar itu jatuh ketangan dua sarjana yang dalam itu modern memengang
peran sangat penting. Mereka adalah Isaac Newton (1643-1727) dan Leibniz
(1646-1716). Di tangan dua orang sarjana inilah secara ilmu modern
dimulai. Newton, sekalipun ia menjadi
pimpinan sebuah tempat pembuatan uang logam di Inggris, tetap menekuni dalam
bidang ilmu. Lahirnya teori Gravitasi, perhitungan Calculus dan Optika
merupakan karya besar Newton. Teori Gravitasi Newton dimulai ketika ada
kecurigaan penyebab planet-planet tidak mengikuti gerak silang lurus, apakah
matahari menarik bumi dan matahari memiliki gaya tarik-tarik bersama. Persangkaan tersebut kemudian dijadikan Newton
sebagai titik tolak untuk spekulasi dan perhitungan-perhitungan. Namun hasil
perghitungan itu tidak memuaskan Newton, semua persangkaan dan perhitungan lalu
ditangguhkan. Baru kira-kira 16 tahun kemudian soal itu ditanganinya lagi,
setelah ia berhasil mengatasi beberapa hal yang ada pada awal penyelidikan
belum disadarinya. Teori Gravitasi memberikan keterangan, mengapa planet
bergerak lurus, sekalipun kelihatannya tidak ada pengaruh yang memaksa planet
harus mengikuti lintasan elips. Sebenarnya pengaruhnya ada, tetapi tidak dapat
dilihat dengan mata dan pengaruh itu adalah gravitasi, yakni kekuatan yang
selalu akan timbul jika ada dua benda yang saling berdekatan. Berdasarkan teori gravitasi dan
perhitungan-perhitungan yang dilakukan Newton, dapat diterangkan dasar dari
semua lintasan planet dan bulan, pengaruh pasang air samudra, dan lain-lain
peristiwa astronomi, justru dalam lapangan astronomilah adalah ketepatan teori
Gravitasi semakin meyakinkan sehingga tidak ada lagi yang tidak percaya tentang
adanya gravitasi ini. Perhitungan
kalkulus atau yang disebut juga diferensial/integral oleh Newton di Inggris dan
Leibniz di Jerman, terbukti sangat luas gunanya untuk menghitung bermacam-macam
hubungan antar dua atau lebih banyak hal yang berubah, bersama dengan ketentuan
yang teratur. Misalnya kecepatan planet mengelilingi matahari yang berbeda-beda
sepanjang lintasan, menemukan maksimal dan minimal dari suatu kurva, menemukan
tambahan luas lingkaran bila radius berubah sedikit sekali, dan lain sebagainya
(Ibid: 89).
Setelah kalkulus ditemukan, banyak
sekali perhitungan dan pemeriksaan ilmiah dapat diselesaikan, sebelumnya
tinggal problematic saja. Tanpa kalkulus ilmu matematika tidak dapat berkembang
seperti sekarang ini. Penemuan ketiga
orang yang mendasari ilmu alam adalah pemeriksaan netwon mengenai cahaya dan
lazin disebut Optika. Dengan mempertimbangkan bahwa cahaya masuk melalui lensa,
sedangkan bagian perifer lensa mendekati bentuk prisma sehingga cahaya perifer
terbiasa menjadi pelangi yang disebut chomatic aberation maka Netwon membuat telescope
tanpa lensa, ia menggunakan cermin cekung yang berdasarkan pemantulan cahaya
sehingga tidak menjadi pembiasaan. (Ibid: 90)
Pada masa sesudah Netwon,
perkembangan ilmu selanjutnya berupa ilmu kimia. Jika pada masa Netwon, ilmu
yang berkembang adalah matematika, amat menarik. Ilmu kimia tidak tidak mulai
dengan logika, aksioma ataupun dediksin. Semua permulaan ilmu kimia praktis
berdasarkan percobaan-percobaan yang hasilnya kemudian ditafsirkan. Pada
pemulaannya semua percobaan bersifat kualitatif. Joseph Black (1728-1799) dikenal sebagai
pelopor dalam pemeriksaan kualitatif. iamenemukan gas CO². Ia melakukan
pemanasan terhadap kapur. Hawa yang keluar kemudian dialirkan melalui air kapur
yang sudah disaring lebih dahulu. Pada waktu hawa yang keluar dari kapur
mengalir, air kapur yang jernih menjadi keruh. Demikian pula henri Cavendish
(1731-1810) memeriksa gas yang terjadi jika serbuk besi disiram dengan air asam
yang menghasilkan hawa yang dapat dinyalakan. Serjana lain yaitu Joseph
Prestley (1733-1804), Menemukam sembilan macam hawa No dan oksigen yang antara
lain dapat dihasilkan oleh tanaman, Oksigen ini dapat "menyegarkan"
hawa yang tidak dapat lagi menunjang pembakaran. Antonie Laurent (1743-1794)
jadilah serjana yang dapat melekatkan ilmu kimia sebagaimana yang kita kenal
sekarang (Ibid: 93-94).
Berdasarkan pertemuan Black,
Cavendish, priestley, dan lain-lain, Loveiser melaksanakan percobaan yang
didasarkan pada "timbangan" bahan-bahan sebelum dan sesudahnya
percobaan. Dengan demikian dimulai menggunakan pengukuran dalam Ipangan kimia.
Dengan kata lain ia meninggalkan percobaan yang bersifat kumulatif dan
berpindah kelapangan yang bersifat kuantitatif.
Disamping perkembangan ilmu kimia, zaman yang ditemukan bermacam macam
mesin tanpa ada dasar ilmunya, melainkan dasar lercobaan, misalnya mesin uap
yang kemudian mendasari kereta api, percobaan-percobaan lostrik dab
lain-lainnya, penemuan-penemuan itu melandasi Renovasi industri (Industrial
Revelition) terutama di inggris tetapi kemudian juga meluas diseluruh Benua
Eropa. Penemuan-penemuan empiris tentang kekuatan uap dan penemuan lainnya
kemudian dijadikan percobaan percobaan dalam laboratorium. Pemeriksaan itu
akhirnya menghasilkan hukum-hukum dan rumus empiris yang melandasi perkembangan
teoritis selanjutnya (Ibid :95).
Apabila penemuan ilmu kimia dan
penemuan mesin-mesin pada awalnya tidak langsung mempunyai hubungan dengan
teori ilmu sebagaimana dikembangkan oleh Galileo, Descartes, Kappler, pascal,
Netwon dan Leibniz, perkembangan ilmu setingkat lebih maju dari pada apa yang
telah dicapau oleh serjana-serjana yang telah disebut tadi.
Percobaan selanjutnya dilakukan oleh
J.L. Proust (1754-1826) mengenai atom. Dalam menganalisis oxida dari berbagai
logam, J.L. Proust sampai pada pendapat bahwa perbandingan bahan-bahan yang
ikut serta dalam proses tersebut selalu tetap. semikian pula dengan sulfide
dari logam. Sementara John Dalton (1766-1844) yang mendapatkan ilham untuk
menetapkan kesatuan (a unit) untuk mencari keterangan tentang perbandingan yang
selalu tetap. Dalam hal ini, yang dijadikan kesatuan adalah hydrogenium.
Berdasarkan penemuan dan ketentuan ini, perbandingan berat hydrogenium lawan
atom-atom lainnya disebut berat atom (Ibid: 104)
Menurut Datlon, teori tentang atom
terus dapat dipergunakan dapat dipergunakan dalam lapangan ilmu kimia, juga
oleh Frederish wohler (1800-1882) untuk menemukan sintesis urea pada tahun
1828. Pada sekitar tahun 1895, Henry Becquerel (1852-1908), suami-istri, Curie
(1859-1906), dan JJ. Thompson (1897)menemukan radium. logam yang dapat berubah
menjadi loham lain., sedangkan Tompson menemukan electron. Dengan penemuan itu,
runtulah pendapat akan aksioma yang menyatakan bahwa atom adalah bahan terkecil
yang tidak dapat berubah yang bersifat kekal. Dengan penemuan ini, mulailah
ilmu baru dalam rangka kerangka kimia fisika, yaitu fisika nuklir yang ada pada
zaman sekarang dapat mengubah bermacam macam atom (Ibid:104).
Secara singkat dapat ditarik sebuah
sejarah lengkap ilmu-Ilmu yang lahir pada saat itu. Perkembangan ilmu pada abad
ke-18 telah melahirkan ilmu seperti taksonomi. ekonomi, kalkulus, dan
statistika. Di abad ke-9 lahir pharmakologi, geofisika, geormophologi,
arkeologi, dan sosiologi. Abad ke-20 mengenal ilmu informasi, logika
matematika, makanika kwantum, fisika nuklir, kimia nuklir, radiobiology,
oceanografi, antropologi budaya, psikologi, dan sebagainya (Wibisono dkk.
1989:210). Sekitar tahun 1900 sampai
tahun 1914 menjadi berbagai perubahan berdasarkan teori kenisbian. Ada teori
baru yang menytakan bahwa ruang dan waktu tidak lagi berpisah sebagaimana
dipahami oleh ahli fisika sebelumnya. Ruang dan waktu merupakan satu-kesatuan
mutlak untuk memeriksan dan menerangkan semua peristiwa.
Perlu diketahui pula bahwa pada
zaman modern ini terjadi revolusi industry di Inggris sebagai akibat peralihan
masyarakat agraris dan perdagangan abad pertengahan ke masyarakat industry
modern dan perdagangan maju. Pada abad inilah James Wall menemukan mesin uap
(abad ke-18), alat tenun, serta Inggris menjadi penghasil tekstil terbesar,
kemudian diikuti Amerika Serikat (Shandily, Vol. V:2987).
Setelah abad ke-18 berakhir maka
perkembangan ilmu modern selanjutnya yaitu pada abad ke-19. Pada abad ini
penemuan yang dianggap sebagai penemuan abad tersebut adalah dengan
ditemukannya planet Neptunus. Sementara pada abad XX, secara garis besar
terjadi perkembangan yang sangat luas dalam beberapa bidang ilmu, Misalnya,
ilmu pasti, ilmu kimia, ilmu fisika, kimia organic, biokimia, ilmu astronomi,
ilmu bioligi, dan fisikan nuklir. Di samping ilmu-ilmu yang jelas bersifat
kuantitatif tersebut berkembang pula ilmu-ilmu yang permulaannya bersifat
kualitatif seperti, ekonomi, psikologi, dan sosiologi. Perkembangan pesat dalam
bidang astronomi pada abad XX ini seperti ditemukannya planet terlahir, yaitu
Pluta (1930) setelah abad sebelumnya, yaitu abad XIX telah ditemukan planet
Neptunus dengan didasari perhitungan yang menggu akan system Newton. Dalam abad
XX ini, penegetahuan diperluas. Kalau pada abad XIX tidak dapat diterangkan
sumber energy matahari, sekarang dapat diketahui bahwa energy tersebut terjadi
berdasarkan perubahan atom yang zaman sekarang. menjadi tenaga nuklir (Santoso:
113-114).
F.
Zaman
Kontemporer
Pada masa ini, ilmu fisika menempati
kedudukan yang penting. Menurut Trout (Mutansyir 2001: 135), fisika dipandang
sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya mengandung unsur-unsur
yang fundamental yang membentuk alam semesta. Fisikawan termasyur adalah Albert
Einstein. la menyatakan bahwa alam itu tak terhingga besarnya, tak terbatas,
tetapi juga tak berubah status totalitasnya, atau bersifat statis dari waktu ke
waktu. Einstein percaya akan kekekalan materi. Artinya, alam semesta itu kekal
adanya.
Pada tahun 1929 fuisikawan Hubble
dengan teropong bintang terbesar di dunia melihat galaksi-galaksi disekeliling
kita tampak mejauh dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi. Ia
membantah pandangan Einstein. Fisikawan kontemporer Gamow, Alpher, dan Herman
menarik kesimpulan bahwa semua galaksi di jagad raya kita Bimasakti, kira-kira
15 miliar tahun yang lalu. Pada saat itu teradi ledakan yang maha dahsyat yang
melemparkan materi ke seluruh jagad raya ke semua arah, yang kemudian membentuk
bitang-bintang dan galaksi. Dentuman besar itu terjadi ketika seluruh kosmos
terlempar dengan kecepatan sangat tinggi keluar dari keberadaannya dalam volume
yang sangat kecil (Mutansyir 2001: 135-138).
Dalam masa ini perkembangan dalam
berbagai ilmu teknologi komunikasi dan informasi berkembang sangat pesat. Ilmu
lebih berkembang kea rah spesifik yang beragam. Ilmu yag berkembang lebih
bersifat sintesis antara bidang ilmu satu dan bidang ilmu yag lain. Akibatnya,
perkembangan ilmu menjadi lebih bermaaat dalam kehidupan manusia.[5]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Zaman Yunani Kuno merupakan zaman di
bawah pengaruh kehadiran kekuatan mitos-mitos serta mitologi. Namun dengan
munculnya kebudayaan baru (polis). Keterbukaan warganya untuk menerima
unsur-unsur baru dari luar. Kondisi ini menjadikan mitologi-mitologi
tradisional mulai hilang kewibawaannya. Dalam mempelajari peristiwa alam,
masyarakat mulai muncul keingintahuannya. Mulai mencari apa yang ada dibalik
fenomena.
2.
Zaman Yunani merupakan zaman
filsafat, karena pada zaman ini para filsuf menggunakan sikap Aninquiring
Attitude” dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap Receptive
attitude”. Dan di zaman ini banyak bermunculan filsuf terkenal seperti Thales,
Phytagoras, Socrates. Demokritus, Plato, dan Aristoteles.
3.
Zaman pertengahan merupakan zaman
kemajuan pesat bagi agama islam, dimana banyaknya bermunculan para ilmuwan
islam dari theolog-theolog islam seperti Al Farabi, Al Khawarizmi, Al-Kindi,
Al-Ghazali, Ibnu Shina, Ibnu Rusdy, Ibnu Khaldun, Jabir Ibnu Hayyan, Al-razi,
dll. 4. Zaman Rennaisance merupakan kebangkitan para filsuf yang bebas berfikir
tanpa adanya pengaruh ajaran agama. Tokoh tokohnya yang terkenal seperti
Nicolaus Copernicus, Galilio Galilei, Johanes Kepler, dan Frasisco Bacon.
4.
Zaman modern dikenal sebagai masa
rasionalisme yang tumbuh dizaman modern karena munculnya berbagai ilmu
pengetahuan yang berkembang dengan baik. Tokoh yang menjadi pioner pada masa
ini adalah Rene Decrates, Isaac Newton, Charles Darwin, dan J.J. Thomson.
5.
Zaman kontemporer merupakan zaman
kemajuan ilmu pengetahuan, di mana fisika menjadi titik pusat perkembangannya.
Tokoh yang sangat populer di masa ini adalah Albert Eintein yang mengemukakan
teori relatifitas.
B.
Saran
Hendaknya mahasiswa mengetahui bahwa
yang berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini tidak hanya
orang Barat, namun orang dari timur-tengah pun banyak. Dan hendaknya mahasiswa
tidak menganggap remeh suatu ilmu apapun karena setiap ilmu pasti memiliki
manfaat dan kegunaan.
DAFTAR PUSTAKA
Suaedi. 2016, Pengantar Filsafat Ilmu. Bogor: IPB Press.
Amsal Bakhtiar. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Beerling. 1998, Pengantar Filsafat Ilmu. Jakarta: Tiara
Wacana.
[1]
Suaedi, Pengantar Filsafat Ilmu (Bogor: IPB Press, 2016),
hal. 26
[2] Suaedi, Pengantar
Filsafat Ilmu (Bogor: IPB Press, 2016), hal. 30
[3] Suaedi, Pengantar
Filsafat Ilmu (Bogor: IPB Press, 2016), hal. 31
[4] Suaedi, Pengantar
Filsafat Ilmu (Bogor: IPB Press, 2016), hal. 34
[5] Suaedi, Pengantar
Filsafat Ilmu (Bogor: IPB Press, 2016), hal. 41
Komentar
Posting Komentar